Jurnal Refleksi Dwi Mingguan - Modul 3.2 B Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya

Dalam pembuatan jurnal dwi mingguan ini saya menggunakan model 4C. 4C merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Ritchhart, Church dan Morrison

 

aksi edukasi jurnal dwi mingguan

Saya Melly Artika Retponingtias, Calon Guru Penggerak Angkatan 7 di SD Negeri Semampir I Kabupaten Probolinggo.

Jurnal ini disusun berdasarkan kegiatan yang telah saya lalui dari tanggal 08 Mei 2023 sampai 20 Mei 2023.

Dalam pembuatan jurnal dwi mingguan ini saya menggunakan model 4C. 4C merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Ritchhart, Church dan Morrison (2011).

1) Connection: Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran Anda sebagai Calon Guru Penggerak?
Dengan berpikir berdasarkan aset/potensi kita akan dapat fokus pada aset atau kekuatan yang kita miliki, sehingga kita dapat menciptakan masa depan, kita juga akan memikirkan kesuksesan yang telah dicapai, dan kita akan mampu menata kompetensi dan sumber daya sehingga mampu menyusun rencana berdasarkan visi dan kekuatan serta mampu membuat rencana aksi yang terprogram.
Modul 3.2 menginstruksikan seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran untuk selalu berpikir positif dan mampu mengembangkan potensi sekolah.
Sekolah berbasis aset mengelola sumber daya yang dimiliki dengan cara:
  1. Fokus pada aset dan kekuatan
  2. Membayangkan masa depan
  3. Memikirkan kesuksesan yang telah dicapai dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut
  4. Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan
  5. Merencanakan rencana berdasarkan visi dan kekuatan
  6. Melaksanakan rencana aksi yang telah diprogramkan

2) Challenge: Adakah ide, materi atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang Anda jalankan selama ini?
Dalam ruang elaborasi pemahaman bersama instruktur, fasilitator, pengajar praktik, dan rekan Calon Guru Penggerak lainnya bersama-sama menyampaikan mengenai modul 3.2 bahwasanya Ekosistem merupakan sebuah tempat terjadinya interaksi atau hubungan antar komponen makhluk hidup beserta pendukungnya yang saling berkaitan dan berketergantungan yakni komponen biotik yaitu unsur yang hidup dan komponen abiotik, yaitu unsur yang tidak hidup pada lingkungan tertentu.
Apabila diumpamakan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya.
Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah: Murid, Kepala Sekolah, Guru, Staf/Tenaga Kependidikan, Pengawas Sekolah, Orang Tua dan Masyarakat sekitar sekolah. Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah: Keuangan serta Sarana dan prasarana.
Pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya adalah sosok pemimpin yang mampu menggali kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh suatu komunitas dalam suatu ekosistem baik itu kekuatan yang berasal dari komponen abiotik maupun biotik. Seorang pemimpin pembelajaran yang mampu mengelola sumber daya akan memiliki sikap yang optimis terhadap semua keadaan. Serta memandang setiap hal merupakan aset yang menjadi modal utama dalam mengembangkannya. Pengelolaan sumber daya yang tepat dan dapat mendorong proses pembelajaran di kelas menjadi lebih berkualitas merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya di sekolah. Pengembangan Masyarakat Berbasis Aset yang dapat menitikberatkan pada kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan keinginan yang dimiliki oleh anggota masyarakat, yang digunakan sebagai kekuatan untuk maju dan berkembang.
Pengelolaan sumber daya yang tepat dan dapat mendorong proses pembelajaran di kelas menjadi lebih berkualitas merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya di sekolah. Agar sekolah memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mendorong proses pembelajaran di kelas menjadi lebih berkualitas, maka sekolah dapat menerapkan model pengembangan masyarakat berbasis aset yaitu 7 modul/aset utama yang merupakan salah satu alat yang dapat membantu mengidentifikasi sumber daya yang menjadi aset sekolah dan ketujuh aset tersebut dapat saling melengkapi, dan contoh 7 Modal Utama antara lain: manusia, sosial, fisik, alam/ lingkungan, finansial, politik, agama dan budaya.

3) Concept: Ceritakan konsep-konsep utama yang Anda pelajari dan menurut Anda penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?
  1. Implementasi di kelas seorang pemimpin pembelajaran akan mampu mengoptimalkan apa saja yang dimiliki oleh sekolah yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan minat murid.
  2. Implementasinya di sekolah adalah seorang pemimpin pembelajaran akan memanfaatkan atau mengidentifikasi aset-aset atau modal yang ada di sekolah untuk mengembangkan dan melaksanakan program-program sekolah dan mewujudkan visi dan misi sekolah dengan berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah.
  3. Implementasi pada masyarakat sekitar adalah seorang pemimpin pembelajaran yang mampu mengelola sumber daya akan mampu menjalin kolaborasi yang baik dengan lingkungan sekitar sekolah demi kepentingan dan kemajuan sekolah.
 
4) Change: Apa perubahan dalam diri Anda yang ingin Anda lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini?
Sebelum mempelajari modul 3.2 tentang pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya. Dalam pengambilan keputusan lebih banyak memikirkan kekurangan yang penyebabnya seringkali adalah perasaan yang muncul adalah perasaan pesimis negatif yang berujung pada kegagalan. Selain itu saya sebagai seorang guru penuh dengan rasa pesimis karena setiap akan melakukan langkah perubahan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas pembelajaran saya selalu memikirkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kekurangan yang dimiliki oleh sekolah maupun dimiliki oleh saya sendiri sehingga hal ini membuat saya malas untuk melakukan perubahan tersebut jika fasilitas yang saya butuhkan tidak memadai atau tidak dimiliki oleh sekolah. Dahulu saya berpikir bagaimana bisa saya meningkatkan kualitas pembelajaran jika fasilitas yang ada tidak memungkinkan untuk saya melakukan hal tersebut.
Setelah mempelajari modul ini pola pikir saya menjadi berubah penuh dengan rasa optimis karena saya tidak memandang semua hal dari kekurangannya tetapi saya jadikan kekurangan sebagai suatu sumber kekuatan atau aset. Saya jadi dapat mengidentifikasi aset atau modal yang dimiliki oleh sekolah. Sehingga dapat mewujudkan perubahan yang saya inginkan terkait dengan peningkatan kualitas pembelajaran. saya dapat memanfaatkan 7 aset yang meliputi modal manusia, finansial, lingkungan atau alam, politik, fisik maupun modal sosial, agama dan budaya. Selain itu dengan mempelajari modul 3.2 ini, sudut pandang pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya berubah, karena ternyata seorang pemimpin harus selalu memiliki pola pikir berbasis kekuatan/aset, sehingga membuat kita berpikir positif dengan memanfaatkan sumber daya atau aset di sekitar.

Demikian Jurnal Refleksi Dwi Mingguan saya. Tetap semangat Bergerak Bersama Semarakkan Merdeka Belajar!


Post a Comment